Selasa, 12 Juni 2012

4 CIRI MANUSIA BERIMAN


Kamus artikata.com mendefinisikan ciri sebagai : tanda khas yang membedakan sesuatu dari yang lain. Nah, kalau kita berbicara tentang ciri orang yang beriman, yang membedakannya dari yang tidak beriman, menurut surat Yakobus, maka paling tidak ada 4 ciri itu. Mari kita lihat satu demi satu.

4 CIRI MANUSIA BERIMAN
1. Bukan hanya mendengar tetapi juga melakukan Firman Tuhan (Yak.1:22-25)
Orang yang beriman itu tidak sekedar hanya menjadi pendengar FT, tetapi sekaligus ia menjadi pelaku Firman yang didengarnya itu. Tidak seperti agama lain yang mengajarkan bahwa seseorang sudah dapat pahala jika dia membaca kitab sucinya (walau tidak mengerti apa yang dibacanya), kekristenan menekankan bukan pada pengetahuan (yang diperoleh dari mendengar atau membaca), melainkan pada aplikasi (atau melakukan).
Orang yang melakukan FT memiliki iman yang teguh melebihi mereka yang hanya mendengarkan saja. Yesus menyebut orang yang mendengar dan melakukan Firmannya sebagai orang bijaksana yang membangun rumahnya di atas batu karang.
Ada 3 ujian datang, namun bangunan iman orang yang bijaksana tetap teguh :
(a)  Yang pertama teruji oleh hujan tentunya adalah atap.
Apakah atapnya bocor atau tidak? Itu adalah tes yang pertama. Mungkin ada hujan kesulitan atau hujan masalah, kita diuji seperti apa kekuatan kita menghadapi hujan itu.

(b) Tes yang kedua, angin datang untuk menghantam tembok di sekeliling kita. Ini berbicara mengenai perlindungan-perlindungan kita.
Seringkali kita jatuh bukan oleh batu yang besar, bukan oleh angin yang besar, tapi justru angin sepoi-sepoi yang kecil. Hati-hati, baik terhadap angin kencang maupun pelan, harus tetap berhati-hati.

(c) Tes yang ketiga, banjir datang untuk menghantam fondasi.
Banjir juga berbicara mengenai banjir berkat yang menguji hidup kita.  Ada orang-orang Kristen yang waktu susah, begitu setia kepada Tuhan. Namun setelah sukses , diberkati berlimpah-limpah oleh Tuhan, mereka malah tidak tahan uji terhadap ujian keberhasilan.

 2.Mengendalikan Lidahnya (Yak.1:26)
Ciri kedua manusia yang beriman adalah memiliki kemampuan untuk mengendalikan lidahnya.
Lidah termasuk anggota tubuh yang paling sulit dikendalikan. Berikut ini beberapa catatan tentang lidah :
(a) Banyak kesalahan dibuat oleh lidah.
Dengan kata lain, salah satu pergumulan terbesar dalam hidup adalah pergumulan mengekang lidah. Kesalahan terbesar bukanlah pada dosa tidak mengatakan, melainkan pada mengatakan yang tidak seharusnya dikatakan.
Orang yang dapat mengendalikan lidah diumpamakan seperti kekang pada mulut kuda dan kemudi pada kapal yang berlayar di tengah angin keras. Singkat kata, pergumulan menguasai lidah diumpamakan seperti pergumulan menguasai kuda dan menerjang badai di lautan. Sungguh suatu pergumulan yang besar!

(b) Akibat dari penggunaan lidah yang tak terkekang adalah dahsyat sehingga dilukiskan seperti kebakaran hutan yang besar dan racun yang mematikan.
Perkataan yang tak bertanggung jawab dapat menimbulkan kerusakan yang besar. Banyak relasi rusak akibat lidah; banyak kepercayaan hilang juga oleh lidah, banyak respek yang pudar, juga oleh karena lidah.

(c) Pada akhirnya kita harus mengakui bahwa kita lebih sering gagal menguasai lidah, ibarat binatang buas yang tak dapat dijinakkan sepenuhnya.
Lebih sering kita menyesali kegagalan kita namun sekali perkataan keluar, kita tidak dapat menariknya kembali.

(d) Namun yang terpenting adalah kita harus membersihkan hati sehingga darinya akan keluar air yang bersih.
Dengan kata lain, pengekangan lidah diawali dengan pembersihan hati. Jika kita penuh kemarahan maka kemarahanlah yang akan keluar dari mulut; jika kita penuh kepahitan, maka kepahitan yang akan keluar dari mulut. Sebaliknya, bila hati dipenuhi kasih Tuhan, maka kasihlah yang akan keluar dari mulut. Jika hati penuh iman percaya kepada Tuhan, maka pengharapan dan keyakinanlah yang akan keluar dari mulut.

Lalu bagaimna langkah praktis dalam mengusai lidah ? Dr. Paul Gunadi (konselor dan dosen SAAT Malang) memberi 4 resep :
(1) Sebelum berkata-kata, pastikanlah kebenarannya terlebih dahulu. Jangan sampai kita menyebarkan gosip yang dapat menghancurkan hidup orang.

(2) Sebelum berkata-kata, pikirkanlah dampaknya terlebih dahulu dan bertanyalah apakah kita siap menanggungnya.

(3) Sebelum berkata-kata sesuatu yang berkandungan emosi, tahanlah dan menyingkirlah. Tenangkan hati sampai gejolak reda, baru kemudian timbang lagi apakah memang perlu kita mengatakannya.

(4) Terakhir, sebelum berkata-kata, ujilah terlebih dahulu apakah ada dosa di dalamnya. Jika ada, berhentilah, jangan meneruskannya.

3.Melayani mereka yang berkesusahan (Yak.1:27)
Orang yang beriman memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Ia selalu rindu melayani mereka yang berkekurangan dan berkesusahan. Yakobus menyarankan ada 2 hal yang bisa dilakukan untuk mereka yang berkesusahan :
(a) Pertama, mengunjungi mereka yang tanpa harapan
Mengunjungi mereka yang tanpa harapan (janda dan yatim piatu), merupakan tindakan memperhatikan dan berempati. Manusia merasa dirinya berharga kalau ia diperhatikan dengan tulus. Yakobus sangat mungkin menggunakan ungkapan ‘janda dan yatim’ untuk mewakili golongan masyarakat yang sering dieksploitasi dan tanpa harapan (band. Ul 10:16-19; Yes 1:10-17; Mar 12:40;), sehingga ungkapan janda dan yatim piatu tidak boleh diartikan secara harafiah, namun ungkapan itu mewakili golongan lain yang tanpa harapan (mis: gelandangan, anak terlantar, anak jalanan dsb)

(b) Kedua, bertindak menolong secara nyata   
Kata Yunani untuk mengunjungi (episkeptomai) bukan hanya merujuk pada tindakan melihat atau mengunjungi, tetapi lebih daripada itu adalah tindakan mau memperhatikan kebutuhan seseorang (Mat 25:36, 43; Kis 15:14, 36).
Kata ini juga dipakai untuk kedatangan Allah untuk menolong umat-Nya (Luk 1:68). Arti ini semakin dipertegas melalui penggunaan anak kalimat “dalam kesusahan mereka”.
Yang ditekankan dalam anak kalimat ini bukanlah tindakan memperhatikan secara formalitas maupun eksternal, tetapi secara esensial (menolong mereka dari kesusahan).

4.Menjaga diri agar tidak tercemar oleh dunia (Yak.1;27b)
Orang yang beriman akan menjaga dirinya agar tidak tercemar oleh nafsu dunia. Nafsu duniawi itu bisa berupa :
(1) Keinginan daging
Keinginan daging adalah hal-hal yang menyenangkan daging kita, seperti makan enak, foya-foya, hidup glamor dsb. Hawa dijebak Setan dengan kalimat yang membuat keinginan daging muncul :” Apa yang dilihatnya adalah baik untuk dimakan.”
Keinginan daging juga ada dalam tindakan-tindakan yang tidak bermoral seperti korupsi, jinah, mabuk dsb.

(2) Keinginan mata
Keinginan mata adalah segala hal yang membuat nafsu birahi muncul karena terlihat oleh mata, seperti pornografi, gambar-gambar tak senonoh dsb.

(3) Keangkuhan hidup
Keangkuhan hidup adalah kesombogan manusia yang tidak mau mengakui kedaulatan Allah.
Adam dan Hawa jatuh dalam dosa karena kesombongannya yang mau menjadi seperti Allah.

Kesimpulannya, Sebagai orang beriman kita harus hidup berbeda dengan mereka yang tidak atau kurang beriman. Nah, dengan melakukan ke 4 ciri khas yang sudah di bahas di atas, mudah-mudahan kita bisa menjadi orang beriman yang berkenan kepada Tuhan.


0 komentar:

Posting Komentar